Wikipedia
Hasil penelusuran
Minggu, 21 Juli 2013
Selasa, 21 Mei 2013
BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA
BERBAKTI
KEPADA KEDUA ORANG TUA
Jika kamu ingin berhasil di dunia dan
akhirat, maka kerjakanlah beberapa pesan sebagai berikut :
1.
Berbicaralah kepada kedua orang
tuamu dengan sopan santun, jangan mengucakan “ah” kepada mereka, jangan hardik
mereka dan berkatalah kepada mereka dengan ucapan yang
baik.
2.
Taati
selalu kedua orang tuamu selama tidak dalam maksiat, karena tidak ada ketaatan
pada makhluk yang bermaksiat kepada Allah.
3.
Berlemah lembutlah kepada kedua
orang tuamu, jangan bermuka masam di depannya, dan janganlah memelototi mereka dengan marah.
4.
Jaga
nama baik, kehormatan dan harta benda kedua orang tua. Dan janganlah mengambil sesuatu
pun tanpa seizin keduanya.
5.
Lakukanlah hal-hal yang
meringankan keduanya meski tanpa perintah seperti berkhidmat, membelikan
beberapa keperluan dan bersungguh-sungguh dalam mencari
ilmu.
6.
Musyawarahkan segala pekerjaanmu
dengan orang tua dan mintalah maaf kepada mereka jika terpaksa kamu berselisih
pendapat.
7.
Segera
penuhi panggilan mereka dengan wajah yang tersenyum sambil berkata : ada apa,
bu! Atau ada apa, pak!
8.
Hormati
kawan dan sanak kerabat mereka ketika mereka masih hidup dan sesudah
mati.
9.
Jangan
bantah mereka dan jangan persalahkan mereka, tapi usahakan dengan sopan kamu
dapat menjelaskan yang benar.
10.
Jangan
kau bantah perintah mereka, jangan kamu keraskan suaramu atas mereka,
dengarkanlah pembicaraanya, bersopan santunlah terhadap mereka, dan jangan
ganggu saudaramu untuk menghormati kedua orang tuamu.
11.
Bangunlah jika kedua orang tuamu
masuk ke tempatmu dan ciumlah kepala
mereka.
12.
Bantulah ibumu di rumah dan jangan terlambat membantu ayahmu di dalam
pekerjaannya.
13.
Jangan
pergi jika mereka belum memberi izin meski untuk urusan penting, jika terpaksa
harus pergi maka mintalah maaf kepada keduanya dan jangan sampai memutuskan
surat menyurat
dengannya.
14.
jangan
masuk ke tempat mereka kecuali setelah memdapat izin terutama pada waktu tidur
dan istirahat mereka.
15.
Jangan
makan sebelum mereka dan hormatilah mereka dalam makanan dan
minuman.
16.
Jangan
berbohong dengan mereka dan jangan cela mereka jika mereka berbuat yang tidak
menarik anda.
17.
Jangan
utamakan isterimu atau anakmu atas mereka. Mintalah restu dan ridho dari mereka
sebelum melakukan segala sesuatu, karena ridho Allah terletak pada ridha kedua
orang tua dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaan
mereka.
18.
Jangan
duduk di tempat yang lebih tinggi dari mereka dan jangan menselonjorkan kedua
kakimu dengan congkak di depan mereka.
19.
Jangan
congkak terhadap nasib ayahmu meski engkau seorang pegawai besar, dan usahakan
tidak pernah mengingkari kebaikan mereka atau menyakiti mereka meski hanya
dengan satu kata.
20.
Jangan
kikir untuk menginfakkan harta kepada mereka sampai mereka mengadu padamu dan
itu merupakan kehinaan bagimu dan itu akan kamu dapatkan balasannya dari
anak-anakmu. Apa yang kamu perbuat akan mendapat balasan.
21.
Perbanyak melakukan kunjungan
kepada kedua orang tua dan memberi hadiah, sampaikan terima kasih atas
pendidikan dan jerih payah keduanya, dan ambillah pelajaran dari anak-anakmu
yaitu merasakan beratnya mendidik mereka.
22.
Orang
yang paling berhak mendapat penghormatan adalah ibumu, kemudian ayahmu.
Ketahuilah bahwa surga ada di bawah talapak kaki ibu.
23.
Usahakan untuk tidak menyakit
kedua orang tua dan menjadikan mereka marah sehingga kamu merana di dunia dan
akhirat, dan anak-anakmu akan memperlakukan kamu sebagaimana kamu memperlakukan
kedua orang tuamu.
24.
Jika
meminta sesuatu dari kedua orang tuamu maka berlemah-lembutlah, berterima
kasihlah atas pemberian mereka dan maafkan jika menolak permintaanmu serta
jangan trelalu banyak meminta agar tidak mengganggu
mereka.
25.
Jika
kamu sudah mempu mencari rizki maka bekerjalah dan bantulah kedua orang
tuamu.
26.
Kedua
orang tuamu mempunyai hak atas kamu, dan isterimu mempunyai hak atas kamu, maka
berilah hak mereka. Jika keduanya berselisih usahakan kamu pertemukan dan
berilah masing-masing hadiah secara diam-diam.
27.
Jika
kedua orang tuamu bertengkar dengan isterimu, maka bertindaklah bijaksana, dan
beri pengertian kepada isterimu bahwa kamu berpihak padanya jika ia benar, hanya
kamu terpaksa harus merupakan penolong yang paling baik.
28.
Jika
kamu berselisih dengan kedua orang tua tentang perkawinan dan talak maka
kembalikan pada hukum Islam karena hal itu merupakan penolong yang paling
baik.
29.
Do’a
orang tua untuk kebaikan dan kejelekan diterima Allah, maka hati-hatilah
terhadap do’a dari kejelekan mereka .
30.
Bersopan santunlah dengan orang,
karena barangsiapa mencela orang tua seseorang maka orang tadi akan mencaci
orang tuanya. Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam
bersabda :
من
الكبائر شتم الرجل والديه يسب أبا الرجل فيسب أباه ويسب أمه فيسب
أمه.
“Diantara dosa-dosa besar adalah cacian seseorang terhadap kedua
orang tuanya; mencaci ayah orang maka ia mencaci ayahnya sendiri, mencaci lbu
orang maka ia mencaci ibunya sendiri.”
31.
Kunjungilah kedua orang tuamu
ketika masih hidup dan sesudah matinya, bersedekahlah atas nama mereka dan
perbanyaklah do’a untuknya sambil berkata :
رب
اغفر لي ولوالدي رب ارحمهما كما ربياني صغيرا.
DO’A ADALAH IBADAH
DO’A ADALAH
IBADAH
Hadits shahih yang diriwayatkan oleh
Turmudzi menunjukkan bahwa do’a merupakan jenis ibadah yang paling penting. Karena shalat tidak boleh ditujukan kepada Rasul atau wali.
Demikian pula do’a.
1.Orang yang mengatakan “ya Rasululloh”
atau “Hai orang yang ghaib, berilah aku pertolongan dan anugrah”, berarti
berdo’a kepada selain Allah, meskipun niatrnya bahwa yang memberi pertolongan
itu Allah.
Demikian pula orang yang
berkata,”saya shalat untuk Rasul atau wali” meskipun dalam hatinya untuk Allah,
shalat seperti itu tidak akan diterima, karena ucapannya berlawanan dengan hatinya. Ucapan harus sesuai dengan niat dan keyakinan. Bila tidak demikian maka perbuatannya termasuk syirik yang tidak
diampuni selain dengan taubat.
2.Apabila ia mengatakan yang diniatkan
adalah Nabi atau wali itu sebagai perantara kepada Allah, seperti menghadap
raja, perlu seorang perantara maka yang demikian itu merupakan menyamakan
(tasybih) Allah dengan makhluk yang dhalim. Tasybih seperti itu akan menyeretnya kepada kekufuran. Padahal
Allah telah berfirman yang menyatakan kesuciannya daripada penyamaan dengan
makhlukNya baik dalam dzat, sifat maupun titahNya.
Firmannya
:
] ليس كمثله شيء وهو السميع البصير [
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang
Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (As-Syura :
11).
3.Orang-orang musyrik pada zaman Nabi
Shallallahu'alaihi wasallam
meyakini bahwa Allah pencipta dan pemberi rizki, tetapi mereka berdo’a kepada
wali-wali (pelindung) mereka yang berwujud patung.
Mereka
beranggapan bahwa patung-patung itu menjadi perantara yang dapat mendekatkan
mereka kepada Allah. Ternyata Allah tidak mentolerir
perbuatan mereka itu bahkan mengkafirkan mereka dengan firmanNya :
] وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ
إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ
فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ
كَفَّارٌ[ (3) سورة الزمر
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah berkata:
kami tidak menyembah mereka kecuali hanya agar mereka dapat mendekatkan diri
kami kepada Allah sedekat-dekatnya. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka
perselisihkan. Sungguh Allah tidak memberikan petunjuk kepda
orang-orang yang dusta dan sangat ingkar.” (Az-Zumar
; 3).
Allah itu dekat
dan mendengar, tidak perlu perantara. Firmannya
:
] وإذا سألك عبادي فإني قريب [
“Apabila hambaKu bertanya kepadamu tentang diriKu, maka
sesungguhnyaAku dekat.” (Al-Baqarah :
186).
4.ang-orang musyrik apabila berada
dalam bahaya berdo’a hanya kepada Allah saja, tetapi setelah selamat dari bahaya
mereka berdo’a kepada pelindung-pelindungnya berupa patung-patung, sehingga
Allah menyebut mereka sebagai orang kafir.
Firmannya
:
] وَجَاءهُمُ الْمَوْجُ مِن كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّواْ أَنَّهُمْ
أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُاْ اللّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنجَيْتَنَا
مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنِّ مِنَ الشَّاكِرِينَ[ (22) سورة يونس
“Dan apabila gelombang dari segenap penjuru menimpanya dan mereka
yakin bahwa mereka dalam kepungan bahaya, mereka berdo’a kepada Allah dengan
ikhlas semata-mata kepadanya. Mereka berkata
:sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah
kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.”(Yunus :
22).
Maka kenapa
sejumlah orang Islam berdo’a kepada para rasul dan orang-orang shaleh (selain
Allah). Mereka
meminta pertolongan daripadanya, baik di waktu susah
maupun gembira. Apakah mereka tidak membaca firman Allah
:
]وَمَنْ
أَضَلُّ مِمَّن يَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ مَن لَّا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَومِ
الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَن دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ} (5)وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ
كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاء وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ[ سورة الأحقاف
“Siapa gerangan yang lebih sesat daripada orang yang berdo’a
kepada selain Allah, yaitu kepada orang yang tidak dapat memberikan pertolongan
sampai hari kiamat, sedangkan mereka sendiri lalai akan do’a mereka. Dan apabila
mereka dikumpulkan pada hari kiamat, niscaya sesembahan mereka akan menjadi
musuh mereka dan mengingkari pemujaan mereka.” (Al-Ahqaf
: 5-6).
5.Banyak orang yang menyangka bahwa kaum
musyrikin yang disebut dalam Al-Qur’an itu adalah orang yang menyembah patung
yang terbuat dari batu. Anggapan itu keliru, sebab
patung-patung itu dahulunya adalah nama-nama orang shaleh. Imam Bukhari
meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiallahu'anhu mengenai firman Allah dalam
surat Nuh
:
] وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا
سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا[ (23) سورة نوح
“Dan mereka berkata : jangan sekali-kali
kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhanmu dan jangan pula meninggalkan WADD, SUWA, YAGHUTS,
YA’UQ dan NASR. (Nuh : 23).
Ibnu Abbas mengatakan bahwa
nama-nama tersebut adalah nama-nama orang-orang shaleh umat nabi Nuh u. Setelah mereka mati, setan
membisikkan kepada para pengikutnya agar di tempat duduk mereka, didirikan
monumen-monumen yang diberi nama dengan nama mereka.
Mereka melaksanakannya namun patung-patung itu belum sampai
disembah. Setelah pembuat patung-patung itu mati dan
generasi berikutnya tidak lagi mengetahui asal-usulnya, patung-patung itu
ahirnya disembah.
6.Allah membantah orang-orang yang
berdo’a kepada para Nabi dan wali:
]قُلِ
ادْعُواْ الَّذِينَ زَعَمْتُم مِّن دُونِهِ فَلاَ يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ
عَنكُمْ وَلاَ تَحْوِيلاً (56) أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى
رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ
عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا[سورة
الإسراء
“Katakanlah,
panggillah mereka yang kamu anggap tuhan selain Allah. Mereka tidak
mempunyai kekuasaan untuk menolak bahaya daripadamu dan tidak pula
memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu sendiri justru mencari
jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat dengan Allah
dan juga mengahrapkan rahmatNya serta takut akan
Adzabnya. Sungguh adzab Tuhanmu itu sesuatu yang patut
ditakuti.” (Al-isra’ :
56-57).
Imam ibnu Katsir menafsirkan bahwa
ayat ini turun mengenai sekelompok manusia yang menyembah jin dan berdo’a kepadanya. Jin tersebut
kemudian masuk Islam. Ada juga yang
mengatakan bahwa ayat ini turun mengenai orang-orang yang berdo’a kepada Isa
Al-Masih dan malaikat. Dari keterangan-keterangan di
atas telah jelas bahwa ayat ini membantah dan mengingkari orang-orang yang
berdo’a kepada selain Allah, meskipun kepada Nabi atau wali.
7.Ada orang yang menyangka bahwa minta
tolong (istighatsah) kepada selain Allah itu boleh dengan alasan bahwa yang
memberi pertolongan sebanarnya adalah Allah, seperti istighatsah kepada Rasul
dan wali-wali. Ini dikatakan boleh, seperti ada orang yang berkata : saya disembuhkan oleh obat dan dokter. Pendapat ini
salah dan dibantah oleh firman Allah yang mengisahkan do’a Nabi Ibrahim u
:
] الذين خلقني فهو يهدين. والذين هو يطعمني ويسقين. وإذا مرضت فهو
يشفين [
“
Allah
lah yang menciptakan aku maka Dialah
yang memberikan petunjuk kepadaku. Dialah yang memberi makan dan minum aku, dan
apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkanku.” (Asy-syuaraa’ : 78-80).
Ayat ini menerangkan bahwa pemberi
petunjuk, rezki dan kesembuhan adalah Allah saja bukan yang lain, sedangkan
obat hanyalah
sebagai sebab saja dan tidak menyembuhkan.
8.Banyak orang yang tidak dapat membedakan
antara istighatsah kepada orang hidup dan istighatsah kepada orang mati. Firman
Allah :
] وما يستوي الأحياء ولا الأموات [
“Tidaklah
sama orang yang hidup dengan orang yang mati.” (Fathir
: 22).
] فاستغاثه الذي من شيعته على الذين من عدوه [
“Nabi Musa
dimintaitolong oleh seorang dari golongannya untuk mengalahkan musuh orang
itu.”
(Al-Qashah : 15).
Ayat ini menceritakan tentang seorang yang
minta tolong kepada Musa agar melindunginya dari musuhnya dan Musa pun
menolongnya:
] فوكزه موسى فقضى عليه [
“Dan Musa
meninjunya sehingga matilah musuh itu.” (Al-Qashash
: 15)
Adapun orang mati tidak
boleh kita meminta tolong kepadanya karena ia tidak dapat mendengar do’a kita.
Andaikata mendengar pun ia tidak akan dapat memenuhi
permintaan kita karena ia tidak dapat melakukannya. Firman Allah :
]إِن
تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ
وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ
خَبِير[ٍ
(14) سورة فاطر
“Apabila kamu berdo’a kepada mereka, mereka tidak dapat mendengar
do’a kamu dan
seandainya mereka dapat mendengar, mereka tidak dapat memenuhi
permintaanmu. Dan pada hari kiamat mereka akan mengingkari
kemusyrikanmu.” (Fathir :
14).
] والذين يدعون من دون الله لا يخلقون شيئا وهم يخلقون. أموات غير
أحياء وما يشعرون أيان يبعثون [
“dan berhala-berhala yang mereka seru
selain Allah itu tidak dapat membuat sesuatu apapun sedang mereka sendiri dibuat orang. Mereka itu benda
mati, tidak hidup dan mereka itu tidak dapat mengetahui kapan akan
dibangkitkan.” (An-Nahl :
20-21).
8.Dalam hadits-hadits shahih terdapat
keterangan bahwa menusia pada hari kiamat nanti mendatangi para Nabi untuk minta
syafaat, sampai mereka mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wasallam untuk
meminta syafaat agar segera dibebaskan. Nabi Muhammad menjawab
: ya, memang saya dapat memberi syafaat, kemudian beliau sujud di bawah
Arsy dan memohon kepada Allah agar mereka segera dibebaskan dan dipercepat
proses penghisabannya. Syafaat ini adalah permintaan Nabi
Muhammad Shallallahu'alaihi
wasallam dan waktu itu beliau dalam keadaan hidup dimana beliau dapat berbicara
dengan mereka lalu beliau memohonkan syafaat. Itulah yang diperbuat Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam.
9.Argumen yang paling tepat untuk
membedakan antara memohon kepada orang mati dan orang hidup adalah apa yang dikatakan Umar bin Khatthab pada waktu
terjadi kekeringan dimana beliau meminta kepada Al-Abbas paman Rasululloh
Shallallahu'alaihi wasallam untuk
mendo’akan mereka, dan Umar tidak pernah minta tolong kepada Nabi Shallallahu'alaihi wasallam setelah
beliau wafat.
10.Ada sejumlah ulama yang menyangka
bahwa tawassul itu sama dengan istighatsah, padahal perbedaan antara keduanya
besar sekali. Tawassul adalah berdo’a kepada Allah melalui perantara seperti,
wahai Allah, dengan perantaraan cintaku kepadamu dan cintaku kepada Rasulmu
bebaskanlah kami. Do’a dengan cara tawassul seperti ini
boleh. Istighatsah adalah berdo’a kepada selain Allah seperti,
wahai Rasululloh, bebaskanlah kami. Ini tidak boleh, bahkan termasuk
syirik besar berdasarkan firman Allah
:
] ولا تدع من دون الله ما لا ينفعك ولا يضرك فإن فعلت فإنك إذا من
الظالمين [
“Dan janganlah kamu berdo’a kepada selain Allah, yang tidak memberi
manfaat dan tidak pula memberi madharat kepadamu, sebab
jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu
termasuk orang-orang zalim (musyrik).” (Yunus :
106).
Syarat Diterimanaya Taubat
SYARAT
DITERIMANYA TAUBAT
Adapun syarat diterimanya taubat yaitu
:
1.
Ikhlas :
artinya taubat pelaku dosa harus ikhlas, semata-mata karena Allah, bukan karena
lainnya.
2.
Menyesal
: atas dosa yang telah diperbuatnya.
3.
Meninggalkan
sama-sekali maksiat yang telah dilakukannya.
4.
Tidak
mengulangi : artinya seorang mslim harus bertekad untuk tidak mengulangi
perbuatan dosa tersebut.
5.
Istighfar : memohon ampun kepada
Allah atas dosa yang dilakukan terhadap hakNya.
6.
Memenuhi hak bagi orang yang
berhak, atau mereka melepaskan haknya tersebut.
7.
Waktu
diterimanya taubat itu dilakukan di saat hidupnya sebelum tiba ajalnya. Sabda
Nabi Shallallahu'alaihi wasallam
:
“Sesungguhnya Allah akan menerima
taubat seseorang hambanya selama belum tercabut nyawanya.” (hadits hasan riwayat
Turmudzi).
Dimana ALLAH ?
DIMANA
ALLAH?
Allah yang menciptakan kita, mewajibkan
kita untuk mengetahui di mana Dia, sehinga kita dapat menghadap kepadaNya dengan
hati, do’a dan shalat kita. Orang yang tidak tahu di mana tuhannya akan
tersesat, tidak tahu kemana ia menghadap kepada sembahannya, dan tidak dapat
melaksanakan ibadah (penghambaan) kepadaNya dengan sebenar-benarnya. Sifat
Mahatinggi yang dimiliki Allah atas makhluknya tidak berbeda dengan sifat-sifat
Allah yang lain sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan hadits shahih,
seperti : mendengar, melihat, berbicara, turun dan
lain-lainnya.
Aqidah para ulama salaf yang shaleh dan
golongan yang selamat “Ahlussunnah wal Jamaah” telah mengimani apa yang
diberitakan Allah dalam Al-qur’an dan apa yang diberitakan Rasulnya dalam
hadits, tanpa ta’wil (menggeser makna yang asli ke makna yang lain).
Ta’thil (meniadakan maknanya sama sekali) dan tasybih
(menyerupakan Allah dengan makhluknya). Hal ini berdasarkan firman Allah
:
] ليس كمثله شيء وهو السميع البصير [
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang
Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syuura : 11).
Sifat-sifat Allah ini, antara lain
Mahatinggi dan bahwa Dia berada di atas makhluk, adalah sesuai dengan keagungan
Allah. Oleh karena itu iman kepada sifat-sifat Allah tersebut wajib, sebagaimana
juga iman kepada dzat Allah, Imam Malik ketika ditanya tentang firman Allah
:
] الرحمن على العرش استوى
[
“Allah Yang Maha Pemurah bersemayam di atas Arsy.” (Taha :
5).
Beliau menjawab : Istiwa itu sudah
dimaklumi artinya (Yaitu : bersemayam atau berada di atas). Tetapi bagaiamana
hal itu tidak dapat diketahui. Kita hanya wajib mengimaninya dan
mempertanyakannya adalah bid’ah.”
Perhatikanah jawaban Imam Malik tadi yang
menetapkan bahwa iman kepada “istiwa” itu wajib diketahui oleh setiap muslim, yang berarti : bersemayam atau berada
di atas.tetapi bagaimana hal itu, hanya Allah saja yang mengetahi. Orang yang
mengingkari sifat Allah yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan hadits –antara
lain sifat Mahatinggi Allah mutlak dan Allah di atas langit- maka orang itu
berarti telah mengingkari ayat Al-Qur’an dan hadits yang menetapkan adanya
sifat-sifat tersebut. Sifat-sifat tersebut meliputi sifat-sifat kesempurnaan.,
keluhuran dan keagungan yang tidak boleh diingkari oleh
siapapun.
Usaha orang-orang yang datang belakangan
untuk mentakwilkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan sifat-sifat Alah,
karena terpengaruh oleh filsafat yang merusak aqidah Islam, menyebabkan mereka
menghilangkan sifat-sifat Allah yang sempurna dari dzatNya. Mereka menyimpang
dari metode ulama salaf yang lebih selamat, lebih ilmiah dan lebih kuat
argumentasinya. Alangkah indahnya pendapat yang mengatakan :
Segala kebaikan itu
terdapat
Dalam mengikuti jejak ulama
salaf
Dan segala keburukan itu
terdapat
Dalam bid’ah yang datang
kemudian.
KESIMPULAN
:
Beriman kepada seluruh sifat-sifat
Allah yang telah diterangkan Al-Qur’an dan hadits adalah wajib. Tidak boleh
membeda-bedakan antara sifat yang satu dengan sifat yang lain, sehingga hanya
mau beriman kepada sifat yang satu dan ingkar kepada sifat yang lain. Orang yang
percaya bahwa Allah itu Maha mendengar dan Maha Melihat, dan percaya bahwa Allah
itu Maha tinggi di atas langit sesuai dengan keagungan Allah dan tidak sama
dengan tingginya makhluk, karena sifat MahatinggiNya itu adalah sifat yang
sempurna bagi Allah. Hal itu sudah ditetapkan sendiri oleh Allah dalam kitabnya
dan sabda Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam Fitrah dan cara
berfikir yang sehat juga mendukung kenyataan tersebut.
ALLAH DI
ATAS ARASY
Al-Qur’an, hadits shaheh, naluri dan cara
berfikir yang sehat telah mendukung
kenyataan bahwa Allah berada di atas arasy.
1.
Firman
Allah :
] الرحمن على العرش استوى [
“Allah Yang Maha Pemurah bersemayam di atas Arasy.” (Thaha :
5)
Pengertian ini sebagaimana
diriwayatikan bukhari dari beberapa tabi’in.
2.
Firman
Allah :
]أَأَمِنتُم
مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ [ (16) سورة الملك
“Apakah kamu merasa aman trehadap Yang di langit? Bahwa Dia akan
menjungkir-balikkan bumi bersama kamu…? (Al-Mulk :
16).
3.
Firman
Allah :
] يخافون ربهم من فوقهم [
“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka…”
(An-Nahal : 50).
4.
Firman
Allah tentang Nabi Isa 'Alaihis salam :
] بل رفعه الله [
“Tetapi Allah mengangkatnya …” (An-Nisa’
: 158)
Maksudnya Allah menaikkan Nabi Isa
ke langit.”
5.
Firman
Allah :
] وهو الله في السموات [
“Dan Dialah Allah (Yang disembah) di
langit …” (Al-An’am : 3)
Ibnu Katsir mengomentari ayat ini
sebagai berikut : para ahli tafsir sependapat bahwa kita tidak akan berkata
seperti ucapan kaum jahmiyah (golongan yang sesat) yang mengatakan bahwa Allah itu berada di setiap tempat. Maha
suci Allah dari ucapan mereka.”
Adapun firman Allah
:
] وهو معكم أينما كنتم [
“Dan Allah selalu bersamamu di mana kamu berada …” (Al-Hadid :
4).
Maksudnya bahwa dia bersama kita :
mengetahui, mendengar dan melihat kita di manapun kita berada. Apa yang
disebutkan sebelum dan sesudah ayat ini menjelaskan hal tersebut, seperti
keterangan dalam tafsir Ibnu Katsir.
6.
Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam mi’raj
ke langit ketujuh dan difirmankan kepadanya oleh Allah serta diwajibkan untuk
melakukan shalat lima waktu. (riwayat Bukhari dan
Muslim).
7.
sabda
Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam
:
“Kenapa kamu tidak mempercayaiku,
padahal aku dipercaya oleh Allah yang berada di langit.? (riwayat
Turmudzi).
8.
Sabda
Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam :
“Sayangilah orang-orang yang ada
di bumi maka yang di langit (Allah) akan menyayangimu.” (Riwayat
Turmudzi).
9.
Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam pernah
menanyai seorang budak wanita :
“Di mana Allah?” jawabnya : “Di langit”,”
Rasululloh bertanya lagi : “siapa saya?” dijawab lagi : “Kamu Rasul
Allah.” Lalu Rasululloh bersabda :
“Merdekakanlah dia karena dia
seorang mu’minah.” (Riwayat Muslim).
10.
Sabda
Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam
:
“Arsy itu berada di atas air, dan
Allah berada di atas Arsy, Allah mengetahui keadaan kamu.” (Hadits hasan riwayat
Abu Daud).
11.
Abu
Bakar shiddiq berkata : “Barangsiapa menyembah Allah, maka Allah berada di
langit, Ia Maha hidup dan tidak mati.” (Riwayat Imam Darimi dalam al radd alal
jahmiyah).
12.
Abdullah bin Mubarak pernah
ditanya : “Bagaimana kita mengetahui Tuhan kita?” Maka beliau menjawab : “Tuhan
kita berada di atas langit, di atas Arsy, berbeda dengan makhluknya. “Maksudnya
: dzat Allah berada di atas Arsy, berbeda dan berpisah dengan makhluknya, dan
keadaanya di atas Arsy tersebut tidak sama dengan mahkluk.
13.
Para imam empat (Abu Hanifah, Malik,
Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal) telah sepakat bahwa Allah berada di atas Arsy,
tidak ada seorangpun dari makhluk yang serupa denganNya.
14.
Orang yang sedang shalat selalu mengucapkan :
“Subhana Rabbial A’laa (Maha suci Tuhanku Yang Maha Tinggi). Ketika
berdo’a, ia juga mengangkat tangannya dan
menadahkan ke langit.
15.
Anak kecil ketika anda tanya di mana Allah,
dia akan segera menjawab berdasarkan naluri mereka bahwa Allah berada di
langit.
16.
Cara
berfikir yang sehat juga mendukung kenyataan bahwa Allah di langit. Seandainya
Allah ada di semua tempat, niscaya Rasululloh pernah menerangkan dan mengajarkan
kepada para sahabatnya. Kalau Allah berada di segala tempat, berarti Allah juga
berada di tempat-tempat najis dan kotor. Maha suci Allah dari anggapan yang
demikian itu.
17.
Pendapat yang mengatakah bahwa Allah berada di
segala tempat, berarti bahwa Dzat Allah itu banyak, karena banyaknya tempat. Akan tetapi karena Dzat
Allah itu satu, dan mustahil banyak, maka pendapat yang mengatakan bahwa Allah
berada di segala tempat adalah batil. Maka tentulah Allah itu di langit, di atas
Arsy-Nya, dan dia bersama kita : mengetahui, mendengar dan melihat kita di
manapun kita berada.
Langganan:
Komentar (Atom)