Wikipedia
Hasil penelusuran
Jumat, 03 Mei 2013
Konsep Tarbiyah Islamiyah
Ust. Qasim Saguni
Pembagian Dakwah
Pembagian Dakwah dari segi jumlah objeknya :
1. Dakwah Fardhiyah
2. Dakwah Jama’iyah
Pembagian Dakwah secara metodologi:
1. Dakwah Umum
a) Khutbah- khutbah, contoh khutbah jumat, khutbah idul fitri, khutbah idul adha, dan khutbah nikah.
b) Pelajaran- pelajaran, seperti di kelas, seperti ikhwa di STIBA pada saat menerima pelajaran dari para dosen- dosennya, pada dasarnya dosennya pada saat itu sedang berdakwah. Sama halnya bagi anda yang menjadi guru di mana saja baik secara umum maupun secara khusus guru agama, kemudian anda menyelipkan materi- materi dakwah maka pada saat itu antum berdakwah. Dan hal itulah kita harapkan, semanagat dakwah dari para ikhwa dan akhwat di mana saja bisa di manfaatkan. Apalagi ketika menjadi seorang guru.
c) Diskusi- diskusi, seperti diskusi buku, bedah buku, dan seminar- seminar
d) Pengajian- pengajian umum, seperti tablig akbar, pengajian majelis ta’lin, pengajian di instansi- instansi, di kampus- kampus, dan di sekolah- sekolah.
e) Majelis- majelis ‘ilmu. Seperti, pengajian- pengajian rutin seperti setiap malam ahad di mesjid Wihdatul Ummah, dll.
2. Dakwah Khusus yakni tarbiyah.
Kita berharap melalui dakwah umum di atas, kita bisa membuka dan memperbanyak lahan-lahan dakwah, kita melakukan pembibitan-pembibitan di mana-mana dengan memasuki berbagai sarana yang memungkinkan kita masuk ke dalamnya, seperti instansi-instansi, sekolah, perguruan tinggi dan sebagainya. Siapapun kita, baik kita sebagai seorang guru, karyawan, siswa SMA, siswa SMP, maupun kita sebagai mahasiswa, semuanya bertanggung jawab untuk mengemban amanah dakwah ini, paling tidak berusaha untuk membuka lahan dulu, sehingga ketika lahan sudah mulai terbuka, kita mulai menanam sehingga nantinya kita bisa memetik hasilnya, misalnya kita bisa memetik di UNM, di UNHAS, di STIKES MEGA REZKI (STIKES MEGA REZKI adalah sekolah tinggi yang letaknya pas di depannya kantor Pusat DPP WI / kita mengingatkan diri kita semua untuk sebuah lahan yang dekat di depan mata kita, apakah kita sudah pernah mencoba masuk/ menanam disana ?),
Dari dua bentuk dakwah tersebut, masing-masing memiliki khasais/ spesifikasi :
a) Dakwah umum memiliki peserta yang jumlahnya banyak sedangkan tarbiyah jumlah pesertanya terbatas ( jadi dakwah umum biasanya pesertanya tidak terbatas, seperti seminar- seminar, meskipun kadang juga pesertanya terbatas tapi jumlahnya banyak), sedangkan tarbiyah pesertanya terbatas.
b) Dakwah umum tidak disiplin (tidak ada absensi, tidak ada teguran ketika tidak hadir, susah/tidak dikontrol ) sedangkan tarbiyah kehadiran pesertanya terkontrol, sehingga ketika peserta tidak hadir sebelumnya maka murabbiyahnya harus teliti dan bertanya mengapa mutarabbinya tidak hadir
c) Dakwah umum sulit kita mengontrol karena dakwah umum tidak terikat ( biasanya kita tidak mengabsen karena dapat dibayangkan kalau misalnya peserta yang jumlahnya 300 orang harus diabsen satu persatu, maka kita akan kewalahan ), sedangkan tarbiyah mudah dikontrol karena tarbiyah terikat. Tarbiyah ini sering diibaratkan dengan menanam, apabila ada seorang petani yang jarang mengontrol tanamannya maka nantinya dia akan kesulitan memanennya. jadi harus selalu dikontrol, bagian yang mana yang tidak terkena hama tikus dan yang mana yang terkena hama wereng, mana yang kena virus, sehingga kalau ada peserta tarbiyah yang terkena virus ( telah diterkam tikus ), ini berarti petaninya tidak telaten, lebih bagus dia jadi sopir saja, karena tidak berbakat jadi petani.
d) Hasil dari Dakwah umum hanya menjadi penopang- penopang dakwah yang berarti mereka tidak bisa menjadi da’i sedangkan di dalam tarbiyah, hasil yang diharapkan adalah terbentuknya kader. Jadi sasaran yang tertinggi dari dakwah umum yang bisa kita peroleh adalah hanya melahirkan pendukung- pendukung dakwah, misalnya mereka mungkin bisa mendukung dari segi pendanaan, dari segi keamanan, bisa menjadi mediator (mis. Memediasi untuk terbukanya kegiatan- kegiatan dakwah ), tetapi untuk terjun menjadi menjadi seorang murabbi, mungkin hanya satu atau dua orang yang bisa kita liat sebagai hasil dari dakwah umum. Sedangkan yang paling kita harapkan melahirkan kader- kader pelaksana dakwah yang bisa kita peroleh dari metode dakwah tarbiyah. Olehnya itu, hendaknya kita tidak lebih sibuk dalam dakwah- dakwah umum kemudian melupakan dakwah khusus, tetapi tindakan yang benar adalah memadukan keduanya. Ada yang aktif membuka lahan,mungkin ada juga ikhwa yang tidak berbakat di dakwah khusus tetapi mereka harus melakukan persambungan, jangan jalan sendiri, mereka harus senantiasa kontak dengan siapa yang nantinya jadi para pembina. Dari dakwah umum tsb, kita harus memilih yang mana yang harus kita ikutkan di daurah. Kita harus memprospek mereka terus menerus. Peserta yang sudah rutin hadir, maka dia bisa kita tarik untuk ikut daurah. Dahulu, para peserta dijemput (karena memang kita ditugaskan untuk menjemput peserta kemudian membawanya kesuatu tempat dan diminta untuk tinggal disana “meskipun sedikit terkesan memaksa“ )kemudian mereka didaurah selama tiga hari tiga malam, sendalnya disembunyi karena kondisi keamanan pada saat itu tidak sama seperti sekarang, dahulu kebanyakan orang bersikap regresif melihat bentuk dakwah yang kita bawa. Ketika ada sekelompok orang yang berkumpul melakukan kajian- kajian, mereka langsug dicurigai. Tetapi sekarang, bukan lagi pemaksaan yang harus kita lakukan, karena dakwah kita telah dikenal sehingga kita hanya perlu membujuk, memprospek terus-menerus untuk mengajak mereka ikut daurah. Dan hal ini biasa kita sebut dengan dakwah ‘fardhiyah”. Ketika mereka telah mengkuti daurah, maka akan mudah bagi kita untuk mengarahkannya, dan nantinya dia akan menjadi kader.
Hal yang kita sebutkan di atas adalah pengantar bagaimana kedudukan tarbiyah dalam dakwah.
‘Ahammiyatul marhalah’ kita tinggalkan dan kita langsung masuk pada ‘Ta’rif Dakwah’, insyaAllah kita akan bahas ‘ahammiyatul marhalah’ pada bagian akhir.
KONSEP TARBIYAH ISLAMIYAH
A. Defenisi Tarbiyah
• Secara bahasa kata tarbiyah berasal dari kata
“ tanmiyatun’” yang berarti penumbuhan, pengembangan, pembangunan. Sehingga nanti sasarannya adalah menumbuhkan, mengembangkan, dan membangun manusia.
“tansyiatun” yang berarti peningkatan, pendidikan,penumbuhan, pengembangan.
“isylahun” yang berarti perbaikan. Jadi tarbiyah diharapkan mampu melakukan perbaikan dari pribadi yang kurang baik menjadi baik, pribadi yang baik dikembangkan, dibangun. Tarbiyah memang diibaratkan seperti sebuah pabrik.
• Defenisi secara umum.
Tarbiyah yaitu menumbuhkan sesuatu dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain sampai pada keadaan yang sempurna. Jadi defenisi ini menunjukkan pengertian yang sifatnya hakikat/ esensi dari sebuah tarbiyah. Dari defenisi ini juga, kiat bisa mengambil gambaran secara eksplisit bahwa tarbiyah itu bermarhalah.
Menyampaikan/ mengantarkan sesuatu kepada kesempurnaannya sedikit demi sedikit ( menurut Al Baidhawi, ulama ahli bahasa )
Dari defenisi ini menunjukkan gambaran kepada kita tentang hakekat dan makna tarbiyah. Dua defenisi tersebut keduanya telah menagantar kita kepada kesimpulan bahwa tarbiyah itu halan-fa halan wa syaian fa syaian, yang menunjukkan bahwa tarbiyah itu memiliki rmarhalah, jadi ketika ada yang menolak marhalah dalam tarbiyah, maka kedua ulama’ ini akan protes.
• Defenisi secara khusus (secara istilahan )
Pengertian yang dimaksud disini adalah defenisi yang kita pahami dalam lingkup Wahdah islamiyah yakni tarbiyah adalah progaram- program yang lengkap yang dibangun di atas prinsip- prinsip ajaran islam (Seperti adanya progarm hafalan Al Qur’an, amal jama’i, dan yang lainnya, dimana program ini dibuat di atas prinsip- prinsip ajaran islam yang menyeluruh) yang bertujuan untuk membentuk pribadi- pribadi muslim yang ideal . inilah yang biasa kita singkat dengan 5M. 5M ini harus kita hafal meskipun lebih wajib kita menghafal rukun iman dan rukun islam. Sebagai seorang pembina, hendaknya kita menghafal 5M tsb karena hal tersebut telah menjadi syi’ar kita dalam pembinaan, karena kita akan mengarahkan orang atau mad’u kita ke dalam 5M tsb. Materi 5M ini akan diurai dalam materi ahdaf tarbiyah.
B. Unsur- unsur Tarbiyah
i. Belajar agama.
Hal ini bukanlah merupakan satu- satunya, tapi inilah yang pokok.
ii. Menjaga peningkatan iman.
Ada unsur penjagaan dan peningkatan iman). Jadi kita harapkan dalam tarbiyah- tarbiyah atau pertemuan- pertemuan, kita bertemu dengan murabbiyah kita yang shalih/ah, bertemu dengan para ikhwan/akhawaat kita yang shalih/ah, diharapkan paling tidak iman kita bisa dalam keadaan standar. Ini akan membawa dampak yang sangat yang berpengaruh terutama dalam zaman sekarang ini, faktor lingkungan sangat berpengaruh. Misalnya anak- anak kita yang pernah sekolah di Wahdah, ketika mereka telah selesai dari wahdah, dan ke tempat yang tidak ada tarbiyahnya, maka anak tersebut akan mengalami perubahan yang drastis. Kita bisa lihat perubahan rambutnya, celananya, atau bahkan perubahan motornya.
Hal ini diharapkan bisa menjadi koreksi kepada kita semua. Makanya kita biasa mengatakan ‘menyekolahkan anak kita di sekolah kita yang mungkin masih banyak kekurangan itu lebih bisa kita pertanggung jawabkan dari segi pembinaannya dibandingkan dengan kita sekolahkan di sekolah- sekolah umum. Kecuali kalau memang di sekolah tersebut telah ada pembinaan (tarbiyah-tarbiyah). Dan ini merupakan tantangan bagi setiap DPC- DPC untuk memperluas jaringan dakwahnya sampai di SMA-SMA (seperti di bagian akhawaat telah ada FUMM), di UNHAS, dll.Kalau tidak ada pembinaan, maka anak kita bisa habis, padahal kita telah bersusah payah melahirkan, menggarap, dst, kalau harus menjadi korban zaman. Perlu diingatkan bahwa kita menikah harus punya misi, punya anak juga punya misi. Jangan sampai misi kita harus tergadai dengan kurangnya kita memperhatikan pembinaan keluarga kita. Dari awal kita harus mengarahkan anak-anak kita (mis di TK, SD, SMP ), karena ketika kita mulai megarahkan hanya pada waktu mereka SMA maka mereka akan balik menyerang kita. Na’udzubillah min dzalik.
iii. Melejitkan potensi dan mengarahkan.
Diharapkan lewat tarbiyah kita bisa menggali potensi dari orang- orang yang kita bina, sehingga ketika potensi itu telah muncul maka kita arahkan potensi tsb. Kita perlu memperhatikan apakah mereka berbakat jadi pemimpin, berbakat jadi ahli debat (misalnya ini terlihat dengan pintarnya dia berdebat di setiap acara- acara diskusi. Misalnya ustadz Ikhwan, potensinya sudah terlihat (oleh murabbinya pada saat itu yakni ust Qasim) sejak SMA ( dengan tidak berlebih- lebihan, pada saat itu pak Tamsil Limrung telah membisik kami untuk menjaga baik- baik anak tsb
iv. Memberikan tugas (bagaimana membebani amal)
Hal yang perlu juga ada dalam tarbiyah adalah memberikan tugas perjuagan, jangan hanya yang pertama diperhatikan meskipun penting, tapi yang berikutnya juga perlu diperhatikan. Sehingga akhwat perlu dilatih untuk menjadi panitia, mengemban amanah-amanah, dan tugas-tugas.
v. Pendidikan
Pendidikan secara khusus, dan penanaman adab. Dalam unsur pendidikan ini ada dua yaitu;
a. Pujian atau penghargaan dan motivasi-motivasi,
b. Teguran atau peringatan dan saknsi.
Dalam pemberian sanksi ini disesuaikan dengan kondisi daripada mutarabbiyah kita, seperti Rasulullah pernah memberi sanksi selama 40 hari, itu karena diprediksi iman kuat, berbeda dengan mutarabbiyah yang baru bergabung, maka bisa jadi ia menerima tawaran yang lain. Inilah unsur-unsur yang harus ada dalam tarbiyah. Ini memebrikan pelajaran kepada kita bahwa tarbiyah itu bukan hanya tafakkuh, meskipun itu unsur yang proriotas dan dominan tapi kita harus mengingat bahwa ada unsur lain yang perlu diperhatikan, dan ini menjadi bahan evaluasi apakah unsure-unsur ini sudah ada dalam tarbyah yang kita jalani selama ini.
C. Karakteristik Tarbiyah
Sifat-sifat yang khas dari pada tarbiyah islamiyah ini maknanya pendidikan dalam arti umum seperti pendidikan sekuler saat ini itu tidak dimiliki, makanya disebut khasais, dia merupakan cirri khas, kekhusussan tarbiyah islamiyah, diantaranya:
1) Rabbaniyah.
Betul-betul merujuk pada nilai-nilai rabbaniyah dalam sumber, dalam metode, dalam tujuan. Rabbaniyah dalam sumber Al Qur’an dan Sunnah, dalam metode (thariqoh) metode Rasulullah. Dimana sekarang banyak metode yang dirubah misalnya ada metode parpol, ada metode dakwah dan tarbiyah dan ini akan dibahas dalam materi khusus metode merubah.
2) Salafiyah
Merujuk pada metode salaf merujuk pada pemahaman generasi terbaik sebelum kita, jadi kita ada teladan, acuan ,patron. Tarbiyah ini arahnya kemana, membentuk pribadi seperti apa, yaitu pribadi seperti salafushshalih
3) Mutawazilatun.
Seimbang lawannya tidak berlebih-lebihan di satu sisi. Seimbang dalam pemberian tarbiyah akal, hati dan fisik. Pendidikan sekuler sekarang lebih banyak ke akal daripada fisik, rohani dan kalbu yang kering
4) Syumuliyah
Melahirkan kader yang terpenuhi dalam segala aspek (tidak seragam dalam keahlian).
5) Berjenjang / Bertahap/ Berfase
6) Berkesinambungan/ berlanjut
D. Ruang Lingkup Tarbiyah dan Program- programnya
a) Pembinaan Rohani
Sasaran dari pembinaan rohani adalah hati yaitu menmbuhkan kekuatan dan kepekaan hati. Program- program yang biasa menunjang pembinaan ini antara lain :
a) Shalat berjama’ah
b) Memperbaiki bacaan Al Qur’an
c) Pengarahan murabbiyah kepada mad’u
d) Meteri- mteri penyucian jiwa
e) Mengunjungi akhawaat (baik yang sakit, yang jarang datang karena musbah, dll)
f) Mengunjungi orang yang sakit
g) Mabit bersama/ hari bersama. (kiyamullail, sahur, dzikir)
h) Buka puasa bersama
b) Pembinaan Intelektua
a) Materi-materi tematik
b) Penjelasan hadits (kitabul Jami’ dan An Nawawi)
c) Menghafal Al Qur’an dan hadits
d) Latihan membawa materi (kultum)
e) Problem solving (penyelesaian masalah mutarabbiyah)
f) Diskus kitab (menyampaikan, mengkritik dan menjawab pertanyaan)
g) Menghadiri majelis ilmu
h) Pembinaan Fisik
a) Latihan fisik (olah raga), n misalnya lari, bela diri,sepak bola, dan renang.
b) Cheek up
c) Rihlah
E. Urgensi Marhalah
1) Merupakan aksioma dalam kehidupa kita (sunnatullah). Tidak ada sesuatupun di muka bumi ini yang terjadi begitu saja tanpa bertaha. Misalnya penciptaan langit dan bumi, penciptaan manusia, turunnya Al Qur’an, sekolah/ pendidikan.
2) Merupakan manhaj Rasul dalam berdakwah. Hal tersebut dapat dilihat dalam :
a) Dakwah sembunyi- sembunyi dan dakwah terang- terangan
b) Dakwah kemudian daulah kemudian jihad
c) Wasiat rasulullah kepada Muadz bin Jabal
3) Penerapan para salaf di dalam ta’lim .
a) Ibnu Abbas : yang dimaksud dalam QS. Ali Imran : 79 yaitu orang –orang yang mengajar manusia dari ilmu yang kecil sampai ke yang beasr.
b) Ibnu Mas’ud berkata Rasulullah mengajarkan kami sepuluh- sepuluh ayat kemudian dihafal, dipelajari maknanya kemudian mengamalkannya, jadi kami mempelajari ilmu dari Rasulullah ilmu sekaligus amal.
c) Perkataan Ali radhialllahu ‘anhu “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar pemahaman mereka”
F. Marhalah Tarbiyah
1) Marhalah ta’rif
Yakni membentuk pribadi mu’min
2) Marhalah takwin
a) Membentuk pribadi mushlih (bisa menshalihkanorang lain )
b) Membentuk pribadi mujahid
3) Marhalah tanfidz
a) Melahirkan kader yang memiliki sifat muta’awun (mampu bekerjasama)/ berjama’ah
b) Melahirkan kader yang mutqin (profesional), ciri-cirinya yakni komitmen terhadap amal jama’i (terikat dan terlibat).
G. Ladasan dan Isti’nas
1. Al Qur’an :
a. QS. 3:79
b. QS. 62:2
2. Merupakan solusi Problematika ummat hari ini
3. Madrasah nubuah di baitul Arqam
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Bagus, sangat bermanfaat :)
BalasHapuswww.bairuindra.blogspot.com
makasih :)
Hapusizin mau copy jdikan materi tarbiyah...
HapusTerima kasih
BalasHapus